Home » Kegiatan Tri Darma Dosen » DARI KEBERAGAMAN MENUJU KEBERAGAMAN: NAMA-NAMA JALAN DI KOTA MALANG DALAM TIGA ZAMAN (1931-1969)

DARI KEBERAGAMAN MENUJU KEBERAGAMAN: NAMA-NAMA JALAN DI KOTA MALANG DALAM TIGA ZAMAN (1931-1969)

Reza Hudiyanto
Mbang Pinucung
Kasin iku wetan Tanjung
Terusane Tongan
Apa dene Blakang Loji
Ngetan terus kesasar tekan Pecinan

Lagu Pinucung
Kasin itu sebelahTimur Tanjung
Jalan lanjutan dari Tongan
Atau Juga Belakang Loji
Ke Timur terus tesesat sampai Pecinan

Tembang Pucung di atas disusun oleh seorang guru SD Katolik di tahun 1950-an. Fungsi dari tembang Pucung di atas untuk adalah mem­perkenalkan wilayah Malang dan membentuk citra kota pada anak-anak Sekolah Dasar di Malang pada tahun 50-an. Tembang tersebut jika di­ajarkan pada anak-anak SD sekarang tentu tidak lagi relevan. Ketidakrele­vanan ini disebabkan nama-nama Tanjung, Kasin, Blakang Loji, Pecinan dan Tongan secara formal tidak lagi eksis di Kota Malang. Nama-nama jalan itu masih eksis dalam bentuk memori di sebagian penduduk kota Ma­lang. Beberapa nama lama masih eksis, tetapi bukan dalam bentuk nama jalan, melainkan dalam bentuk nama kecamatan.

Sebagian nama-nama jalan di kota Malang yang telah digunakan oleh pemerintah Kolonial Belanda dalam mengidentifikasi jalan-jalan telah mengalami hingga saat ini telah mengalami dua pergantian bahkan ada satu jalan yang mengalami 3 kali pergantian nama. Pergantian pertama terjadi di tahun 1943 yang dilakukan oleh Malang Sityo.2 Pergantian kedua terjadi di tahun 1969 oleh pemerintahan Orde Baru. Pada saat pemerintah Kolonial Belanda membangun kota Malang secara besar-besaran pada tahun 1927, sejumlah ruas jalan diberi nama sesuai dengan karakter ka­wasan. Ini membentuk citra kolonial Malang sebagai kawasan sehingga muncullah kantung-kantung masyarakat Eropa yang identik dengan nama Gunung, Pulau dan Tokoh-tokoh Belanda.

Pada 1947 kepenguasaan atas kota beralih dari Pemerintah RI ke NICA menyusul keberhasilan tentara NICA menduduki kota Malang di bulan Juli 1947. Selama 2 tahun administrasi di kota Malang berada di ta­ngan NICA untuk kemudian beralih lagi ke pemerintahan RIS di tahun 1949. Semenjak pemerintah kotapradja Malang terbentuk pada tahun 1951, sebagian nama jalan dikembalikan kembali ke penamaan jalan pada masa pemerintahan pendudukan Jepang. Pada perkembangan selanjut­nya, ternyata perubahan nama jalan tersebut berlanjut hingga tahun 1968. Alasan perubahan nama jalan di tahun 1952 lama dengan perubahan di tahun 1943. Perubahan nama-nama jalan terjadi pada nama-nama pejabat Belanda dan “sesuatu” yang berbau kolonial. Untuk nama yang tidak ber­bau kolonial, perubahan hanya sekedar alih bahasa.

Perubahan nama-nama jalan pada tahun 1969 benar-benar secara jelas menunjukkan adanya pengaruh penguasa dalam membentuk citra kota Malang. Apa yang dikatakan Brenda S.A. Yeoh bahwa pergantian nama jalan-jalan tidak hanya sekedar masalah lingusitik tetapi juga meru­pakan wujud perebutan kontrol atas produksi makna simbolik dalam pem­bangunan lingkungan kota benar-benar menjadi kenyataan (Yeoh, 1996: 221).

Makalah disajikan pada Seminar internasional Project on Street Images: Decolonialization and Changing Symbolism of Indonesian Urban Culture between 1930s and Early 1960s, Yogyakarta, 8-9 Agustus 2005

Download File DARI KEBERAGAMAN MENUJU KEBERAGAMAN_Reza

 
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

 
 

Leave a Comment