Home » Kegiatan Tri Darma Dosen » Peningkatan Keprofesionalan Guru Bahasa Arab (SMA/MA/MTs) Se-Malang Raya Melalui Lesson Study

Peningkatan Keprofesionalan Guru Bahasa Arab (SMA/MA/MTs) Se-Malang Raya Melalui Lesson Study

Peningkatan Keprofesionalan Guru Bahasa Arab (SMA/MA/MTs)

Se-Malang Raya Melalui Lesson Study

Oleh: Khoirul Adib, S.Pd, M.A*

A. Pendahuluan

Pengajaran bahasa Arab di Indonesia sampai saat ini belum mampu menunjukkan keberhasilan yang dapat dibanggakan, bahkan materi bahasa Arab cenderung menjadi momok dan tidak disukai oleh banyak siswa. Kenyataan seperti ini membawa kesan bahwa bahsa Arab merupakan bahasa yang sulit dipelajari dibandingkan dengan bahasa asing yang lain meskipun pada dasarnya bahasa Arab tidak sesulit yang dibayangkan khususnya bagi orang Indonesia yang beragama Islam, sebab pada hakekatnya mereka setiap hari telah menggunakan bahasa ini dalam praktek-praktek ibadahnya seperti ketika shalat dan berdoa. Selain itu, banyak sekali kosa kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab yang sebenarnya mempermudah untuk mempelajari bahasa Arab.

Hasil penelitian Haris (2001) menyimpulkan bahwa selama ini pengajaran bahasa Arab belum menunjukkan hasil yang maksimal, hal itu lebih disebabkan oleh penanganannya yang kurang maksimal mulai dari penyediaan sumber daya manusianya (kualitas pengajar) sampai dengan sumber daya materialnya termasuk di dalamnya persoalan metodologinya. Akibatnya, lebih dari 75 % guru bahasa Arab di sekolah-sekolah penyelenggara mata pelajaran bahasa Arab baik sekolah umum maupun sekolah berbasis agama belum memiliki standar ideal sebagai guru bahasa Arab.

Fakta di atas diperkuat temuan Muhaiban (2006) yang mengungkapkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di Indonesia menghadapi berbagai problematika. Menurut Muhaiban, problematika pembelajaran bahasa Arab tersebut setidaknya menyangkut 3 aspek penting, yaitu aspek guru, aspek siswa, dan aspek media pembelajaran. Problematika yang diakibatkan oleh guru muncul karena lemahnya kompetensi guru dalam pembelajaran bahasa Arab dan terbatasnya jumlah guru yang memiliki kompetensi berbahasa Arab secara memadai, terutama kemampuan berbicara (takallum) dan menulis (kitabah). Di samping itu juga karena terbatasnya jumlah guru yang memiliki kompetensi akademis sebagai guru bahasa Arab. Problematika yang terkait dengan siswa diakibatkan oleh beberapa hal antara lain latar belakang pendidikan, motivasi, dan tujuan belajar bahasa Arab. Para siswa umumnya memiliki latar belakang pendidikan bahasa Arab yang hiterogin yang berakibat pada hiteroginitas kemampuan mereka dalam mengikuti pelajaran. Siswa yang berasal dari keluarga dan lingkungan yang islamis umumnya mempunyai dasar bahasa Arab yang kuat karena sejak kecil mereka telah bersentuhan dengan bahasa Arab baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekolah. Siswa seperti itu cenderung mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar bahasa Arab. Sementara itu siswa yang lain tidak memiliki latar belakang bahasa Arab yang cukup karena mereka menempuh pendidikan dasar pada sekolah umum yang tidak mengajarkan bahasa Arab. Kemampuan dasar bahasa Arab mereka terbatas pada kemampuan membaca al-Qur’an tanpa diiringi dengan kemampuan menulis huruf Arab. Ketika mereka melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, mereka mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, terutama karena mereka harus berada satu kelas dengan siswa yang memliki latar belakang bahasa Arab yang lebih baik. Problematika yang terkait dengan media pembelajaran bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan formal muncul antara lain karena minimnya media pembelajaran di sekolah, di samping terbatasnya kemampuan guru untuk membuat dan menggunakan media tersebut dalam pembelajaran. Lembaga pendidikan yang telah memiliki perangkat keras seperti komputer atau laboratorium bahasa, umumnya menghadapi kesulitan karena terbatasnya jumlah tenaga pengajar yang mampu mengoperasikan dan menyiapkan perangkat lunaknya.

Adapun menurut Kamaluddin (2005) menyinggung tentang problem pengajaran bahasa Arab di Indonesia secara umum adalah proses belajar mengajar (PBM) yang kurang menarik dan cenderung membosankan. Hal ini disebabkan karena sistim pengajarannya yang cenderung dimulai dari gramatika-terjemah atau tata bahasa (qawa’id) dan mengabaikan aspek kemahiran yang lainnya seperti kemahiran menyimak, berbicara dan menulis (Chatib, 1996; Effendy, 2005 dan Emzir, 2007). Sementara Jusril (dalam Kamaluddin, 2005) melihat kendala justru pada aspek kurukulum bahasa Arab di sekolah/madrasah diantaranya: 1). Materi yang tidak stabil, 2) Alokasi waktu sangat sedikit 3).Terlalu heterogennya kemampuan dan latar belakang siswa. Jusril memberikan solusi agar para guru berani untuk merubah sistematika kurikulum, membentuk kelas remedial dan berkoordinasi dengan pimpinan untuk menambah alokasi waktu, termasuk memiliki kemampuan menggunakan media-media yang praktis agar mudah dimengerti oleh siswa. Karena itu perlu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme tenaga pangajar bahasa Arab di sekolah/madrasah melalui implementasi Lesson Study. Dari sini diharapkan para pengajar bahasa Arab akhirnya akan mampu memperbaiki pola pembelajaran bahasa Arab di sekolah atau madrasah masing-masing serta mampu melakukan inovasi-inovasi baru yang efektif dalam PBM bahasa Arab.

B. Seputar Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan di Indonesia

Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah terkait pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filosofis sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Tema yang akhir-akhir ini sering mengemuka terutama tertuju pada bagaimana upaya mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan kompeten. Sudah menjadi rahasia umum masyarakat dunia bahwa kualitas pendidikan Indonesia memang rendah. Rata-rata hasil ujian akhir nasional, ujian akhir sekolah untuk semua mata pelajaran, berkisar pada rentangan 5 sampai 7 saja. Memang ada beberapa anak-anak bangsa ini yang berprestasi di berbagai kompetisi ilmiah internasional, tapi mereka hanya beberapa siswa saja dibanding populasi sekolah di negeri ini. Rendahnya skor di atas akan senantiasa dikaitkan dengan bench-marking, rendahnya mutu tenaga kependidikan dan rendahnya kualitas pendidikan guru. Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas guru dan pendidikan guru telah dilaksanakan dengan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan, misalnya diintroduksirnya proyek perintis sekolah pembangunan, pengajaran dengan system modul, berbagai pendekatan pengajaran dan perubahan kurikulum nasional, akan tetapi mengapa sampai detik ini usaha-usaha tersebut belum juga menunjukkan hasil yang signifikan?

Krisis multidimensional yang melanda Indonesia telah membuka mata kita terhadap mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, dan secara tidak langsung juga merujuk pada mutu pendidikan yang menghasilkan SDM itu sendiri. Meskipun sudah merdeka lebih dari setengah abad, akan tetapi mutu pendidikan Indonesia dapat dikatakan masih sangat rendah dan memprihatinkan. Hal tersebut setidaknya dapat kita ketahui dengan melihat 2 (dua) indikator sekaligus, yaitu indikator makro seperti pencapaian Human Develompement Index (HDI) dan indikator mikro seperti misalnya kemampuan membaca, menulis, dan sebagainya. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP pada Human Development Report 2007, ternyata Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara di dunia. Peringkat tersebut justru sebenarnya semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2004 HDI Indonesia berada pada peringkat 111, lalu menjadi peringkat 101 pada tahun 2005, dan kemudian merosot kembali menjadi peringkat 107 pada tahun 2006. Dari hasil-hasil penelitian, ternyata kuncinya memang terletak ujung tombak pada kualitas gurunya. Guru-guru hendaknya merupakan guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri haruslah profesi yang sangat dihargai setara dengan profesi lain, meskipun hingga sekarang gaji mereka tidaklah fantastis. Namun sayangnya, lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah non-keguruan dan pada umumnya pelamar untuk menjadi seorang guru relatif bisa diterima dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas/peringkat seadanya pula, maksudnya tidak seketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas kedokteran, teknik, hukum dan bidang studi non-keguruan lainnya.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan sasaran sentral yang dibenahi adalah seharusnya kualitas kependidikan guru. Hal ini harus dilakukan karena berdasarkan data, sebanyak 1,09 juta atau sekitar 60% guru sekolah dasar (SD/MI), 40% guru SLTP (SMP/MTs), 43% guru SMU (SMA/MA), dan 34% guru SMK secara akademik masih berada di bawah kualifikasi standar sebagai pengajar. Angka itu bisa saja lebih kecil daripada kenyataan di lapangan. Data lain bisa dilihat dari hasil tes Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2003 yang dikoordinir oleh The International for Evaluation of Education Achievement (IEA). Hasil tes itu menempatkan siswa Indonesia di peringkat 34 penguasaan Matematika dan peringkat 36 penguasaan Sains. Dibandingkan dengan dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia, posisi ini jauh tertinggal. Singapura berada pada peringkat pertama, baik Matematika maupun Sains, Malaysia peringkat 10 Matematika dan peringkat 20 bidang Sains (Sutjipto, 2007, & DLPN, 2008). Kelemahan siswa Indonesia secara langsung maupun tidak mereleksikan rendahnya kualitas guru dan masih minimnya ketersediaan sumber-sumber belajar bagi siswa. Kedua hal itu, bisa disebut sebagai masalah yang terbesar.

Rendahnya kemampuan anak didik pada mata pelajaran Matematika, Sains dan bidang studi lainnya termasuk bahasa Arab, tidak terlepas dari kemampuan guru dalam mengajarkan siswanya. Guru mempunyai peranan yang tidak kecil dalam meningkatkan kualitas anak didik. Para pendidik/guru perlu penyegaran dan melakukan perubahan-perubahan terus menerus karena telah terjadi pula kemajuan dan perkembangan yang begitu cepat, hal ini sesuai dengan upaya dan antisipasi berkaitan dengan kualifikasi guru yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 123/U/2001 tentang Pedoman Pengangkatan Guru. Pada dasarnya, pertama, peningkatan kualitas diri seorang guru harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. Oleh karenanya usaha peningkatan kualitas guru terletak pada diri guru sendiri. Untuk itu diperlukan adanya kesadaran pada diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar profesional dalam memenuhi darmanya sebagai manusia. Kedua, melaui institusi dan kepala sekolah guru harus diajak berubah dengan latihan secara sadar terus menerus dalam pembuatan satuan pelajaran, metode pembelajaran yang berbasis inquiry, discovery, contextual teaching and learning, menggunakan alat bantunya, menyusun evaluasinya, serta termasuk perubahan filosofisnya (KMPN, 2001).

Hakikat pendidikan sesungguhnya dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi pendidikan, terutama pada peserta didik. Guru harus dapat terus ditingkatkan sensitivitas dan kreativitasnya. Sensitivitas adalah kemampuan guru untuk mengembangkan kepekaan-kepekaan paedagogisnya untuk kepentingan pembelajaran dan juga harus memiliki komitmen yang benar-benar tinggi dalam usaha untuk mengembangkan kurikulum yang akan benar-benar bermanfaat untuk pendidikan anak, guru juga institusi. Guru yang memiliki motivasi rendah tidak akan dapat melaksanakan atau mengoperasikan kurikulum, karena kurikulum menuntut kerja keras guru untuk mempersiapkan dan melaksanakannya di kelas. Pada dasarnya kurikulum ini hanya dilihat sebagai acuan dasar yang harus diterjemahkan lebih jauh oleh guru dengan melihat potensi masing-masing anak. Guru bertindak sebagai fasilitator dengan siswa sebagai subyek. Siswa harus aktif mempresentasikan ide-idenya, mencari solusi atas masalah yang dihadapi dan menentukan langkah-langkah yang harus diambilnya. Kesulitan utama pada guru-guru adalah ketidakpahaman mereka mengenai apa dan bagaimanamelakukan evaluasi dengan portofolio. Karena ketidakpahaman ini mereka kembali kepada pola assesment lama dengan tes-tes dan ulangan-ulangan yang cognitive-based semata. Nurgito (2006) menambahkan bahwa mutu pendidikan idealnya dibangun atas dasar kedisiplinan, konsistensi, komitmen, dan keseriusan dari pendidik, masyarakat, dan pemerintah. Konsep peningkatan mutu pendidikan sebaik apapun tanpa keempat faktor di atas hanya akan menjadi teori sebagai bahan bacaan yaitu sekedar menambah wawasan dan pengetahuan, tanpa memiliki makna apapun.

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru-gurunya. Semakin berkualitas para guru, semakin berkualitas pula pendidikannya. Untuk meningkatkan kualitas, guru dituntut senantiasa mengembangkan diri dalam segi pengetahuan dan wawasan tentang berbagai metode, konsep, dan pendekatan baru dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat membutuhkan ketersediaan guru-guru yang cerdas, berkualitas, berintegritas dan komit dengan tugasnya. Dunia pendidikan sangat menginginkan mereka untuk memahami dan menerjemahkan kurikulum secara cerdas serta bereksplorasi, menemukan dan mengembangkan bahan dan media pengajaran. Orang-orang inilah yang akan mampu mengembangkan tes dan sistem pengujian yang tepat serta senantiasa mengembangkan wawasan untuk menunjang profesinya. Pada akhirnya, diharapkan hanya guru-guru berkualitaslah yang pantas diberikan jalan untuk berkarir di bidang pendidikan dan dipromosikan untuk jabatan tertentu. Tidak ada lagi pos-pos tertentu di jajaran pendidikan yang diisi oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang dan concerned kependidikan.

C. Peningkatan Profesionalisme Guru BA dan Kualitas Pembelajaran Melalui

Lesson Study.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) telah berkembang sangat pesat di era global ini dan disadari sepenuhnya bahwa pengembangan berbagai bidang ilmu mutlak diperlukan untuk mendukung pengembangan IPTEK. Oleh karena itu inovasi di bidang peningkatan kualitas pendidikan perlu mendapat perhatian yang serius dari seluruh pihak yang berkepentingan. Secara umum, kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Pembenahan komponen-komponen pendidikan, salah satunya adalah tenaga pendidik mutlak diperlukan. Oleh karena itu  pemerintah dan DPR menetapkan undang-undang nomor 14  tahun 2005 tentang guru dan dosen. Lahirnya   undang-undang tersebut  memberikan  harapan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia khususnya  bagi pengembangan profesi guru dan dosen. Dalam salah satu bagian  dari undang-undang tersebut  dinyatakan bahwa upaya peningkatan profesionalisme sekaligus  kesejahteraan guru dan dosen adalah dengan melakukan pendidikan profesi dan sertifikasi (UUGD, 2005). Perubahan paradigma profesi pendidik perlu dipahami, baik oleh dosen maupun guru. Berbagai aspek terkait  dengan pendidikan profesi dan sertifikasi  sebagai bagian dari upaya  peningkatan kualitas pendidik perlu diketahui, karena cepat atau lambat guru dan dosen akan terkena aturan tersebut. Berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi dari para guru dan dosen, salah satu diantaranya dapat melalui ”lesson study” yakni belajar tentang dan dari pembelajaran.

Dalam laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, peringkat Indonesia dalam hal pendidikan turun dari 58 menjadi 62 diantara 130 negara di dunia. Yang jelas, Education Development Index (EDI) Indonesia adalah 0,935 , di bawah Malaysia (0,945) dan Brunei Darussalam (0,965) (Jawa Pos, 12-12-2007). Rendahnya mutu pendidikan Indonesia merupakan tanggung jawab kita bersama, tidak hanya merupakan tanggung jawab guru sebagai pendidik. Pemerintah juga memiliki andil yang besar dalam usaha peningkatan mutu pendidikan. Hal ini terlihat dari perubahan kurikulum pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, yaitu kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yang biasa dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan menjadi kurikulum 2006 yang dikenal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KBK dan KTSP sama-sama berbasis kompetensi, yang menerapkan pendekatan konstektual (Constextual Teaching and Learning). Pembelajaran konstekstual sangat bagus diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas, karena siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran. Namun metode pembelajaran bukanlah faktor utama keberhasilan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Metode pembelajaran hanyalah alat/media yang digunakan untuk menuju kualitas pendidikan yang prima, sedangkan pengendaranya adalah guru. Sehingga baik atau tidaknya pendidikan tergantung dari profesi guru sebagai pendidik.

Pengembangan keprofesionalan guru harus selalu ditingkatkan, karena peningkatan keprofesionalan guru akan diikuti oleh peningkatan efektifitas kegiatan belajar mengajar dan secara tidak langsung peningkatan keprofesionalan guru juga akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan secara luas. Oleh karena itu, Lesson Study diperlukan peranannya. Lesson Study adalah suatu proses kolaboratif dimana sekelompok guru mengidentifikasi suatu masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik yang akan dibelajarkan), membelajarkan siswa sesuai skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain. Lesson Study dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan keprofesionalan guru, yaitu dengan menguraikan delapan pengalaman yang diberikan Lesson Study kepada guru sebagai berikut. Lesson Study memungkinkan guru untuk: 1) memikirkan dengan cermat mengenai tujuan dari pembelajaran, materi pokok, dan bidang studi, 2) mengkaji dan mengembangkan pembelajaran terbaik yang dapat dikembangkan, 3) memperdalam pengetahuan mengenai mengenai materi pokok yang diajarkan, 4) memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan dicapai berkaitan dengan siswa, 5) merancang pembelajaran secara kolaboratif, 6) mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta tingkah laku siswa, 7) mengembangkan pengetahuan pedagogis yang kuat/penuh daya, dan melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata siswa dan kolega (Herawati, 2005, Hendayana, 2007, dan Salma, 2008). Lesson Study menargetkan pencapaian berbagai kualitas siswa yang mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar adalah kebiasaan berpikir dan bersikap (the habbits of mind and heart that are fundamental to success in school). Kebiasaan berpikir dan bersikap itu berupa ketekunan (peristence), kerjasama (cooperation), tanggung jawab (responsibility), dan kemauan untuk bekerja keras (willingness to work hard). Oleh karena itu, guru harus bekerja sama sebagai satu tim untuk menciptakan lingkungan belajar yang baik. Tim guru, dapat dibentuk di Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah maupun tingkat kabupaten. Sehingga, Lesson Study merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan kegiatan MGMP dan dapat memperbaiki belajar mengajar guru melalui pengembangan pengetahuan keprofesionalan bersama-sama berdasarkan praktik pembelajaran.

Menurut Lewis (2002), tahap-tahap yang perlu di lakukan dalam menerapkankan suatu Lesson Study adalah sebagai berikut, pertama membentuk grup Lesson Study, anggota kelompok Lesson Study dapat direkrut dari guru, dosen, pejabat pendidikan, dan/atau pemerhati pendidikan. Yang sangat penting adalah mereka yang mempunyai komitmen, minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas pendidikan. Kedua, memfokuskan Lesson Study, yang perlu dilakukan guru yaitu memilih mata pelajaran, serta memilih topik (unit) dan pelajaran (Lesson). Ketiga, Merencanakan Research Lesson, dalam merencanakan suatu Research Lesson, di samping mengkaji pelajaran-pelajaran yang sedang berlangsung, kita perlu mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar (plan to guide learning). Rencana itu akan memandu pengajaran, pengamatan, dan diskusi tentang research lesson serta mengungkap temuan yang muncul selama lesson study berlangsung. Keempat, mengajar dan mengamati Research Lesson, guru anggota kelompok yang sudah di tunjuk dan disepakati melaksanakan tugas untuk mengajar materi yang telah ditetapkan, sedangkan anggota kelompok yang lain mengamati Lesson tersebut. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan Research Lesson dilakukan dengan menggunakan kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Kelima, mendiskusikan dan menganalisis Research Lesson. Research Lesson yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal itu perlu dilakukan sebagai bahan untuk perbaikan atau revisi Research Lesson. Dengan demikian Research Lessson diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien. Keenam, merefleksikan Lesson Study dan merencanakan tahap-tahap berikutnya. Dalam merefleksikan Lesson Study hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki.

Lesson Study memiliki peran yang sangat strategis dalam melakukan perubahan secara sistemik. Menurut Lewis (2002) Lesson Study tidak hanya memberikan sumbangan terhadap pengetahuan keprofesionalan guru, tetapi juga terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem pendidikan yang lebih luas. Melalui Lesson Study, guru secara kolaboratif berupaya menterjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di kelas. Mereka berupaya merancang pembelajaran sedemikian sehingga siswa dapat dibantu untuk mengetahui kompetensi dasar yang diharapkan. Selain itu, mereka berupaya merancang suatu scenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar dan pengembangan kebiasaan berpikir ilmiah, dimana siswa diajak untuk mengendalikan variable dan juga memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait dengan materi yang dibelajarkan. Setelah itu rancangan pembelajaran dilaksanakan, diamati, didiskusikan, direvisi, dan jika perlu dibelajarkan lagi di kelas lainnya. Penyelenggaraan proses belajar mengajar menutut guru untuk menguasai isi atau materi bidang studi yang akan diajarkan serta wawasan yang berhubungan dengan materi tersebut. Sebagai penyelenggara proses belajar-mengajar guru juga harus bersikap profesional. Guru harus dapat mengembangkan sikap positif dalam pembelajaran dan dapat merespon ide-ide siswa. Melalui lesson study, guru dapat mengamati pelaksanaan pembelajaran yang diteliti (research lesson) dan juga dapat mengadopsi pembelajaran yang sejenis setelah mengamati respon siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksanakan melalui pengamatan langsung terhadap pembelajaran yang diteliti maupun laporan tertulis, video, ataupun berbagi pengalaman dengan kolega. Sehingga dengan adanya Lesson Study, guru dapat memperbaiki mutu pengajarannya (kualitas pembelajarannya) di kelas serta pada saat yang sama akan meningkatkan profesionalisme guru.

D. Hakikat Lesson Study

Inovasi pendidikan menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan dari waktu ke waktu. Isu ini juga selalu muncul ketika orang membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah seputar pendidikan. Dalam inovasi pendidikan, secara umum terdapat dua model inovasi yaitu: pertama “top-down model” yakni inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai atasan yang diterapkan kepada bawahan; seperti halnya inovasi pendidikan yang dilakukan oleh Depdiknas selama ini. Kedua “bottom-up model” yaitu model inovasi yang bersumber dan merupakan hasil ciptaan dari bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.

Selama ini pemerintah sesungguhnya selalu melakukan upaya-upaya peningkatan mutu guru melalui berbagai pelatihan, diklat, workshop dan sebagainya yang tentunya tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk keperluan tersebut. Sayangnya usaha dari pemerintah tersebut sejauh ini masih kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Setidaknya ada dua hal yang selama ini disinyalir menyebabkan pelatihan-pelatihan guru belum berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Pertama, pelatihan tidak berbasis pada permasalahan nyata di dalam kelas. Materi pelatihan yang sama disampaikan kepada semua guru tanpa mengenal daerah asal. Padahal kondisi sekolah di suatu daerah belum tentu sama dengan sekolah di daerah lain. Kadang-kadang pelatih menggunakan sumber dari literatur-literatur asing tanpa melakukan ujicoba terlebih dahulu maupun penyesuaian-penyesuaian untuk kondisi sosio-kultural Indonesia. Kedua, hasil pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan pada pembelajaran di kelas ataupun kalau diterapkan mungkin hanya sekali, dua kali dan selanjutnya kembali ke asalnya seperti dulu lagi, back to basic. Hal ini bisa jadi disebabkan karena content yang disampaikan dalam pelatihan tersebut memang terlalu abstrak dan sulit atau tidak aplikatif untuk bisa diimplementasikan dalam kelas nyata. Hal lain, bisa jadi disebabkan tidak adanya kegiatan monitoring pasca pelatihan, apalagi kalau pihak sekolah (terutama pimpinan) tidak pernah menanyakan hasil pelatihan dan tidak tersedianya forum sharing pengalaman diantara guru-guru (Adib, 2007).

Untuk mengatasi kelemahan pelatihan-pelatihan konvensional yang selama ini dirasa kurang bernilai guna dan kurang menekankan pada pasca pelatihan maka menurut hemat penulis, Lesson Study menawarkan model (pola) in-service training yang lebih memfokuskan pada upaya pemberdayaan guru sesuai kapasitas serta permasalahan yang dihadapi masing-masing. Lesson Study yakni suatu model (pola) pembinaan profesi pendidik melalui pengakajian (studi) pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Iverson, 2002; Herawati, 2002 dan Hendayana, 2007). Sementara itu, Lewis (2002) menyebutkan:

“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.

Lesson Study bukanlah metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan Lesson Study dapat menerapkan berbagai motode atau strategi pembelajaran yang dianggap efektif dan sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahana faktual yang dihadapi guru di kelas nyata. Dalam tulisannya yang lain, Lewis (2004) menambahkan ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu: 1). Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya. 2). Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa. 3). Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah. 4). Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan camera digital maupun videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Lewis merekomendasikan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.

Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi) secara berkelanjutan (Saito, 2007). Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement), alias inovasi yang tiada henti. Peningkatan mutu pendidikan melalui Lesson Study dimulai dari tahap perencanaan (plan) yang bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa dan berpusat pada siswa (student centered), bagaimana supaya siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak dilakukan sendirian tetapi dilakukan bersama, beberapa guru dapat berkolaborasi atau guru-guru dan dosen dapat pula berkolaborasi untuk memperkaya ide-ide dan wawasan. Perencanaan diawali dari analisis permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Permasalahan dapat berupa materi bidang studi, bagaimana menjelaskan suatu konsep, dapat juga berupa problem pedagogi tentang metode pembalajaran yang tepat agar pembelajaran lebih efektif dan efisien ataupun permasalahan fasilitas, bagaimana menyiasati kekurangan fasilitas pembelajaran. Selanjutnya guru secara bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi yang dituangkan dalam rancangan pembelajaran (lesson plan), teaching materials berupa media pembelajaran dan lembar kerja siswa serta metode evaluasi. Teaching materials yang telah dirancang perlu diujicoba sebelum diterapkan di dalam kelas. Pertemuan-pertemuan yang sering dilakukan dalam workshop antara guru-guru dan dosen-dosen dalam rangka perencanaan pembelajaran mendorong terbentuknya kolegalitas antara guru dengan guru, dosen dengan guru, dosen dengan dosen, sehingga dosen tidak merasa lebih tinggi atau sebaliknya guru tidak merasa lebih rendah. Mereka sharing pengalaman dan saling belajar sehingga melalui kegiatan-kegiatan pertemuan dalam rangka lesson study ini terbentuk mutual learning (saling belajar).

Langkah kedua dalam Lesson Study adalah pelaksanaan (do) pembelajaran untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam perencanaan. Dalam perencanaan telah disepakati siapa guru yang akan mengimplementasikan pembelajaran dan sekolah yang menjadi tuan rumah. Langkah ini bertujuan untuk mengujicoba efektivitas model pembelajaran yang telah dirancang. Guru-guru lain dari sekolah yang bersangkutan atau dari sekolah lain bertindak sebagai observer pembelajaran. Observer juga bisa datang dari para dosen, mahasiswa, dinas pendidikan, dewan sekolah, komite sekolah maupun pihak-pihak lain yang berkenan dan peduli dengan pembelajaran tersebut. Termasuk kepala sekolah juga terlibat dalam pengamantan pembelajaran sekaligus sebagai pemandu kegiatan ini. Sebelum pembelajaran dimulai sebaiknya dilakukan briefing kepada para pengamat untuk menginformasikan kegiatan pembelajara yang direncanakan oleh seorang guru sekaligus mengingatkan bahwa selama pembelajaran berlangsung pengamat tidak mengganggu kegiatan pembelajaran tetapi mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran. Fokus pengamatan ditujukan pada interaksi siswa-siswa, siswa-sumber belajar/bahan-ajar, siswa-guru dan siswa-lingkungan. Lembar observasi pembelajaran perlu dimiliki oleh para pengamat sebelum pembelajaran dimulai. Para pengamat dipersilahkan mengambil tempat di ruang kelas yang memungkinkan dapat mengamati aktivitas siswa. Biasanya para pengamat berdiri di sisi kiri dan kanan di dalam ruang kelas agar aktivitas siswa dapat teramati dengan baik. Selama pembelajaran berlangsung para pengamat tidak boleh berbicara dengan sesama pengamat dan tidak mengganggu aktivitas serta konsentrasi siswa. Para pengamat dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalaui video camera atau foto digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan studi lebih lanjut. Keberadaan para pengamat di ruang kelas disamping mengumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru. Sekali lagi, bukan dimaksudkan untuk mengevaluasi sang guru apalagi “menghakimi”-nya.

Langkah ketiga dalam kegiatan Lesson Study adalah refleksi (see). Setelah selesai pembelajaran, langsung dilakukan diskusi antara guru dan para pengamat yang dipandu oleh kepala sekolah atau personel yang ditunjuk untuk membahas pembelajaran. Guru mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam melaksanakan pembelajaran, selanjutnya para pengamat diminta menyampaikan komentar dan lesson lent dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas siswa. Jika terpaksa harus memberi kritik atau saran, tentunya kritik dan saran untuk guru disampaiakan secara bijak demi perbaikan pembelajaran, dan sebaliknya guru harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi (refleksi) ini diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial. Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (see) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk merancang dan mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik. Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah. Pada prinsipnya, semua orang yang terlibat dalam kegiatan Lesson Study harus memperoleh lessont lent, dengan demikian kita membangun komunitas belajar melalui Lesson Study. Meminjam istilah Ridwan (dalam Adib, 2007), salah seorang pakar Lesson Study, kata kunci Lesson Study adalah keberanian guru “membuka kelas” untuk diamati proses/aktivitas pembelajaran siswanya oleh para observer.

Sebagaimana dipaparkan pada latar belakang di atas, bahwa dari berbagai laporan hasil riset, diperoleh gambaran umum bahwa mutu pendidikan di negeri ini masih memprihatinkan. Oleh karena itu, ada panggilan moral bagi setiap elemen yang terlibat dalam pendidikan untuk terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Sebagaimana diyakini bahwa mutu pendidikan berbanding lurus dengan mutu pendidiknya, artinya kualitas (mutu) pendidikan merupakan dampak dari profesionalisme pendidiknya. Parameter keprofesionalan pendidik tersebut adalah seperti diamanatkan dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP Nomor 19/2005. Merujuk pada UU dan PP di atas, seorang pendidik dikatakan memiliki keprofesionalan jika memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Namun demikian untuk menjadi pendidik profesional bukanlah perkara mudah tapi diperlukan usaha-usaha yang sistemik dan konsisten serta berkesinambungan dari pendidik itu sendiri maupun pihak-pihak pengambil kebijakan.

Dalam konteks inilah Lesson Study diyakini mampu menjadi terobosan baru bagi upaya meningkatkan profesionalitas pendidik bahasa Arab, sebab Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui studi pembelajaran atau pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinammbungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Implementasi model Lesson Study juga akan memberikan pengalaman baru yang amat berharga bagi proses penempaan diri sebagai guru dan pendidik untuk berinovasi secara terus-menerus. Dengan Lesson Study, guru bahasa Arab akan menemukan banyak fakta-fakta baru di kelas yang tak pernah terduga sebelumnya. Aktifitas pembelajaran siswa merupakan fakta dinamis yang terus berubah dan selalu menghadirkan hal-hal baru yang amat menarik untuk terus dikaji. Sehingga dari sini akan menjadi pangkal tolak bagi guru untuk memberikan diagnosa valid sekaligus terapi akurat atas persoalan-persoalan pembelajaran yang terjadi di kelas faktual. Dengan mekanisme seperti ini seorang guru bahasa Arab akan terbiasa dan terlatih menjadi seorang observer yang baik sekaligus seorang researcher (peneliti) yang kompeten atas kondisi riil problem anak didiknya untuk selanjutnya mencari jalan keluar solutif atas problem tersebut.

Khoirul Adib, S.Pd, M.A*

(Staf Pengajar di Jurusan Sastra Arab FS UM)

Phone : 081334520148

Web/Blog : www.islamicstudiesite.com

E-mail : chaerul_adeeb@yahoo.com

Daftar Pustaka

Adib, Khoirul. 2007. Lesson Study: Starting Point Revolusi Pendidikan yang Masih Terabaikan. Malang : Universitas Negeri Malang.

Database Otanomi Daerah Propinsi Jawa Timur. 2005. Profil Malang Raya (Online) .(http://www.otonomnet.com/jatim/index.asp.profil=malang/diakses 3 Juni 2009).

Direktori Lembaga Pendidikan Nasional (DLPN). 2008. Mutu Tenaga Kependidikan. Jakarta: Depdiknas.

Emzir, 2007. ’Kebijakan Pemerintah Tentang Pengajaran Bahasa Arab di Madrasah dan Sekolah Umum’. Jurnal Al-Hadlarah. Vol II (2007). IMLA Indonesia.

Effendy, Ahmad Fuad. 2005. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat.

Hendayana, Sumar. Dkk.. 2007. Lesson Study (Suatu Strategi untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik – Pengalaman IMSTEP-JICA). Bandung: UPI Press.

Haris, Abdul. 2001. ‘Studi Kontrastif Bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia Pada Tataran Sintaksis’. Laporan Penelitian. Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang.

Kamaluddin. 2005. Inovasi Pembelajaran dalam PBM Bahasa Arab. Makalah Pelatihan Guru-guru Bahasa Arab oleh HMPS STAIN Batusangkar.

Lewis, Catherine C. 2002. Lesson Study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better School, Inc.

Muhaiban. 2006. ‘Al-lughah al-‘Arabiyyah fi Indunisiya: Dirasah Ta’liliyyah ‘an Tatawwuratiha wa Musykilat Ta‘limiha’. Jurnal Studia Islamika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 13, No. 1.

Nurgito, Eko. 2007. Pendidikan Indonesia Menyambut Pasar Bebas. http/www.duniaguru.com. 13 Maret 2009.

Susilo, Herawati. 2005. Lesson Study: Apa dan Mengapa ? Makalah seminar dan workshop Lesson Study dalam rangka persiapan Lesson study di Malang, Universitas Negeri Malang. Makalah tidak diterbitkan.

Salma, Sulistyowati. 2008, Membentuk Guru Profesional Melalui Lesson Study Harian Jawa Pos edisi 10 Januari 2008.

UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP Nomor 19/2005.


[1] Makalah disampaikan dalam Pelatihan Peningkatan Keprofesionalan Guru Bhs Arab (SMA/MA/MTs) Se-Malang Raya Melalui Lesson Study, di Gedung AVA E.6 pada 26 Juni 2009.

Tags:

 
 

1 Comment

  1. ulfa nusroh says:

    bagaimana cara mengembangkan bahasa arab di SMP tadz>?liannani mengajar di SMP

 
 

Leave a Comment