Konferensi Internasional Kesusastraan merupakan kegiatan rutin yang diagendakan setiap satu tahun sekali oleh HIKSI. Pada tahun 2018 ini Konferensi Internasional Kesusastraan XXVII dilaksanakan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung bekerja sama dengan HIKSI Komda Bangka Belitung dan HIKSI Pusat. Dari Universitas Negeri  Malang diikuti oleh dua mahasiswa Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu Givari Jokowali dan Imro’atul Mufiddah.

Kegiatan ini mengangkat tema “ Sastra Menanamkan Harmonisasi kehidupan”. Konferensi ini diharapkan dapat berperan aktif dalam mengharmonisasikan kehidupan di masyarakat melalui karya sastra. Kegiatan Konferensi Internasional Kesusastraan XXVII dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 20-22 September 2018. Kegiatan ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu Hotel Santika Pangkalan Baru dan STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung.

Kegiatan pertama, tanggal 20 September 2018 dilaksanakan di Hotel Santika Pangkalan Baru, Jalan Sukarno Hatta (Jalan raya Koba) Km.5 No. 17 Pangkalanbaru, Bangka Tengah, kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan tersebut dibuka dengan makan siang bersama dan diiringi dengan lagu dan tarian adat Bangka Belitung. Dilanjutkkan dengan diskusi dari tiga pemateri utama, yaitu Prof. Dr. Suminto A Sayuti (Universitas Negeri Yogyakarta), Dr. Gautam Kumar Jha (Javaharal Nehru University, new Delhi, India), dan yang lainnya.

Kegiatan kedua, tanggal 21 September 2018 dilaksanakan di STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung. Pada hari kedua diskusi paralel dari pemakalah dilaksanakan 2 sesi, yaitu pada pukul 08.30-11.00 WIB dan 12.30-15.00 WIB. Selanjutnya kegiatan Konferensi Internasional Kesusastraan XXVII ditutup dengan makan bersama adat Bangka Belitung tentu dengan menu makanan khas daerah yang disiapkan oleh mahasiswa STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung.

Kegiatan ketiga, tanggal 22 September 2018 seluruh pemakalah di jemput dipenginapan masing-masing dan melaksanakan wisata budaya bersama dengan panitia. Beberapa tempat wisata dikunjungi, yaitu beberapa pantai, klenteng, museum timah Indonesia, dan jembatan emas.