Ketika kita mau diam sejenak dan membaca dengan tulus puisi-puisi yang ditulis oleh ibu Yuni Pratiwi dalam buku kecil ini , rasanya akan menyadarkan kita
pada banyak hal, terutama pada persoalan-persoalan spiritual, kepedulian sosial yang semakin tak mau kita dipahami atau bahkan seringkali kita “lupakan”. Hal semacam ini sudah jamak di kota-kota besar yang terns dijejali gedunggedung tinggi sebagai symbol modernitas. Dari kondisi itu pula manusia-manusia modern dilahirkan dengan gaya hidup yang diributi gempita pembahan gaya hidup menuju dunia yang semakin materialistis dan egois.
Buku kumpulan puisi bertajuk “Sajak Bintang Gum Matematika” karya Yuni Pratiwi, yang saat ini di tangan anda, saya percaya akan menjadi oase bening nan sejuk yang dapat melegakan jiwa-jiwa kita yang “haus” akan nilai-nilai kemanusiaan Timur (?). Kumpulan puisi ini, ibaratnya purnama di tengah kegelapan yang akan menuntun buramnya penglihatan manusia modern. Dalam buku ini pula saya melihat Yuni telah menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang penulis handal, yang ditandai dengan lembaran kosa kata apik pada setiap kalimatnya yang menghantar kelembutan jiwa, ketajaman rasa sekaligus kekuatan
pikirannya. Ketiga aspek ini sungguh menjadi daya yang ampuh dalam melahirkan tulisan-tulisannya yang menyiratkan kedewasaan pribadinya sebagai manusia yang selalu merindukan cinta Khaliknya. Untuk memperjelas bahasan ini mari kita tengok cuplikan bait Puisi religiusnya yang berjudul ” A l i f ,
“Alif mengikat segenap urat syarafku,
Alif tenggelam dalam diamku…”
Dua baris kalimat di atas menampakkan kepiawaian penulisnya dalam menjalin kalimat menjadi sarat makna, lembut dan puitis.

Abstrak Sajak Bintang Guru Matematika