SEMINAR KOMUNIKASI DI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Ary Kusuma Wardhani/PBSID 2016

 

Perubahan zaman yang dinamis menyebabkan berubahnya pola komunikasi. Komunikasi yang dulunya lebih banyak berbasis lisan, tulis, dan cetak harus beralih pada platform-platform digital. Maka dari itu, perubahan yang terjadi membawa persoalan besar di era milenial ini. Pola komunikasi digital semakin membuat masyarakat yang sebenarnya masih gagap teknologi tertatih-tatih menyesuaikan cepatnya arus informasi. Akibatnya, kurang bijak dalam berkomunikasi di dunia digital semakin marak terjadi dengan mewabahnya istilah hoax, cyber bullying, viral, dll.

Masyarakat semakin malas untuk mencari sumber informasi yang benar sehingga dampaknya banyak informasi yang masuk tanpa ada penyaringan, mudah percaya pada satu sumber, hingga tersulut emosi karena debat kusir yang tidak jelas tujuannya. Selain itu, di era milenial ini, kemudahan dalam mengakses informasi menyebabkan masyarakat semakin kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya, istilahnya yang jauh memang didekatkan, tetapi sayangnya yang dekat malah dijauhkan.

Pembahasan isu-isu hangat beserta solusinya secara ilmiah dalam lingkup komunikasi diadakan seminar dan call for paper komunikasi 2018 pada 13-14 September 2018. Acara itu bertempat di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin yang bekerja sama dengan ASPIKOM (Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi) dan FORKAPI (Forum Komunikasi Pem­bangun­an Indonesia). Tema yang diusung, yaitu Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal. Tema tersebut dapat dijadikan sebagai tumpuan agar kembali pada adab kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. Hal tersebut disebabkan banyaknya generasi muda yang semakin terbawa arus budaya asing, sedangkan budaya sendiri semakin ditinggalkan. Dengan demikian, kegiatan tersebut tepat dilakukan dengan cara diskusi ilmiah antarakademisi se-Indonesia atas hasil temuan penelitian yang telah dilakukan di masyarakat. Tidak hanya itu, keter­jalin­an personal selama kegiatan tersebut menambah banyak relasi.