Wayang Krucil yang ada di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, di Nganjuk disebut Wayang Thimplong, seperti yang dituturkan oleh Anita Oktariyani, mahasiswa Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Wayang Thimplong merupakan kesenian asli Kabupaten Nganjuk, tepatnya di Desa Jetis, dan Bongkal, Kecamatan Pace, yang memiliki keunikan menyerupai wayang krucil di Malang, yakni badan wayang terbuat dari kayu pohon menthaos, atau pohon pule, sedangkan tangannya terbuat dari kulit binatang. Wayang ini dinamakan Wayang Thimplong karena waktu pementasan hanya diiringi dengan beberapa alat musik, antara lain, gong, gambang, kendang, rebab, dan kenong. Perpaduan alat musik tersebut kalau dimainkan berbunyi dan terdengar seperti bunyi plong plong plong atau ketimplong ketimplong sehingga wayang ini disebutlah Wayang Thimplong.
Perwujudan tokoh raja dalam wayang thimplong atau wayang krucil ini digambarkan dengan pewarakan ramping, mata liyepanhidung wali miring, wajah berwarna putih, dan menggunakan mahkota. Tokoh kesatria, digambarkan dengan pewarakan ramping, mata liyepan, hidung wali miring, wajah berwarna putih. Tokoh putren/wanita digambarkan dengan pewarakan ramping, hidung wali miring, mata liyepan, wajah berwarna putih, dan memakai kemben. Tokoh sabrang digambarkan berperawakan lebih besar, mata plelengan, wajah berwarna merah, hidung bentulan, dan mulutmengenges atau Gusen II.
Apabil disimak dari makna simbolisme tokoh wayang Thimplong/krucil dari bentuk dan warna, tokoh raja menyimbolkan tokoh berkarakter luhur dan agung. Tokoh kesatria, menyimbolkan tokoh berkarakter tenang dan agung. Tokoh putren/wanita luhur dan agung. Tokoh sabrang menyimbolkan karakter yang keras dan sombong. Simbolisme warna merah adalah emosi, warna putih berarti jiwa yang murni, dan warna hitam berarti sisi gelap, keteguhan, dan misteri.
Jumlah tokoh wayang krucil di Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang sebanyak 75 buah, namun demikian yang 3 buah telah rusak (patah) karena telah berumur ratusan tahun, sedangkan 72 buah sisanya masih utuh dapat dikenali kondisi aslinya, walaupun pewarnaannya sudah pernah dicat ulang. Beruntung ada sebagian orang yang masih mau peduli terhadap kesenian ini. Salah satunya adalah Bapak Sugondo. Beliau sehari-hari bekerja sebagai staff perpustakaan Fakultas Sastra Unversitas Negeri Malang. Dan Anita yang merupakan mahasiswa peduli terhadap budaya merasa tertantang untuk melakukan penelitian yang nantinya dijadikan sebagai bahan tugas skripsinya. Semoga masih ada yang peduli terhadap kebudayaan bangsa kita terutama yang berasal dari Malang.
DSC01914-620x413