Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang/pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di program Critical Language Scholarship Amerika
HAMPIR dua bulan mengajar bahasa Indonesia di program Critical Language Scholarship (CLS) Amerika, kami para pengajar tak sekadar mengajar tapi juga belajar. Pelajaran yang paling banyak kami dapatkan adalah tentang budaya Indonesia sendiri.
Itu yang kami rasakan, terutama saat para mahasiswa CLS ini mengikuti kelas kunjungan budaya. Salah satunya kunjungan ke kafe Apresio di Ruko Ditas, Malang.
Di kafe ini, para barista menyambut ramah. Mahasiswa CLS dikenalkan berbagai jenis kopi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, jenis Gayo, Toraja, dan lainnya.
Kepada mahasiswa asal Amerika yang baru dua bulan berada di Kota Malang itu juga diajarkan proses mengolah hingga cara menyajikan kopi.
Para mahasiswa CLS bisa mencium langsung aroma dari masing-masing kopi, merasakannya, dan mengolahnya hingga menjadi secangkir kopi buatan mereka yang siap disruput.
Beragam metode meracik dan menyajikan kopi juga mereka pelajari. Membuat kop tubruk, press, drip, hingga syphon.
“Hmmm … yang ini baunya sangat saya suka, seperti aroma buah,” tutur Mas Ryan, saat mencoba membuat kopi asal Papua dengan V60 dripper.
Rupanya para mahasiswa terlalu asyik bereksperimen dengan aneka kopi yang disediakan dan ‘memaksa’ kami mencoba semuanya!
Ada rasa haru sekaligus bangga saat mereka sangat mengapresiasi kekayaan alam Indonesia melalui kopi. Mereka bahkan mengatakan kalau kopi dari Jawa sangat dikenal di kedai-kedai kopi di Amerika.
Kebanggaan makin terasa saat sebagian dari mereka bahkan membeli biji kopi untuk dibawa pulang ke Amerika.
Mbak Emma, contohnya, ia membeli seperempat kilogram kopi jenisToraja Kapala Pitu untuk dibawa pulang. Saat ditanya apakah itu untuk oleh-oleh, ia menjawab tidak. Ia ingin menikmati kopi itu sendiri dengan mesin pembuat kopi mini yang ia punya di rumahnya di Amerika.
“Ini adalah oleh-oleh untuk diri saya sendiri,” sahutnya dengan sedikit tertawa.
Dari kegiatan ini kami belajar bahwa kekayaan alam Indonesia memang patut dihargai dan dilestarikan. Hal ini bukan demi eksistensi Indonesia di mata dunia, namun lebih pada bentuk rasa syukur atas kekayaan negeri sendiri.
Kegiatan hari itu ditutup Adam, Resident Director CLS yang sudah mengaku mabuk kopi dan meminta tambahan susu plain.
“Ini mengingatkan saat saya menjadi barista di Amerika, saat saya masih terlalu suka minum kopi sampai mabuk,” guraunya.
Source: http://surabaya.tribunnews.com/2017/08/01/begini-cara-mahasiswa-amerika-mengapresiasi-kopi-indonesia










