(0341)567475 [email protected]

Schedule for the 2017 Art Design and Dance / Music Skills Test

Kepada calon mahasiswa baru yang akan mengikuti Uji Ketrampilan bidang Seni/Desain dan Seni Tari/Musik di Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra UM, dimohon kehadirannya besok :

Hari / Tanggal : Rabu, 17 Mei 2017

Jam : 07.00 – sampai selesai

The place :
1) Untuk Seni/Desain : Gedung D7, D8, E6, E8
2) Untuk Seni Tari/Musik : Gedung Q3

Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Gatut Susanto Raih Penghargaan Akademik dari Walailak University Thailand sebagai penggagas kegiatan kerja sama pembelajaran BIPA dengan Walailak University Thailand

Gatut Susanto Wins Academic Award from Walailak University Thailand as the initiator of BIPA learning cooperation activities with Walailak University Thailand

aa17268c-acc6-4688-84c9-1ccb20dbb232     4632520b-8fe8-47c2-9317-19a967ecb934

Dedikasi dan kerja keras selalu berbuah manis. Seperti yang dialami Direktur Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Negeri Malang (UM) Gatut Susanto. Dedikasinya membuka jaringan pengajaran bahasa Indonesia di Thailand membuahkan penghargaan akademik dari Walailak University Thailand.

WARTAWAN: NURLAYLA RATRI

Ditemui di Kafe Pustaka UM, Senin lalu (3/4), Gatut Susanto baru saja menuntaskan jam kuliah yang dia emban. Meski demikian, beberapa mahasiswa tampak serius berkonsultasi soal skripsi. Gatut meladeni dengan sabar para mahasiswanya. Setelah itu, dia mulai menceritakan penghargaan yang dia terima di Thailand kepada koran ini.

Penghargaan akademik yang diberikan kepada Gatut sebagai direktur BIPA UM sekaligus penggagas kegiatan kerja sama pembelajaran BIPA dengan Walailak University Thailand sejak 2009 silam. Penghargaan itu diberikan di Thailand, 29 Maret 2017.

Menurut Gatut, penghargaan ini diberikan kepada pihak yang dinilai berjasa terhadap Walailak University. ”Tentunya, saya sangat bangga dan tidak menyangka sebelumnya. Terlebih, saat itu saya menjadi satu-satunya perwakilan untuk kerja sama internasional yang mendapat penghargaan akademik itu,” ujar pria kelahiran Blitar, 24 April 1968 tersebut.

Gatut juga merupakan peraih penghargaan pertama sebagai perwakilan Indonesia dari kampus tersebut. Padahal, lanjutnya, Walailak University juga menjalin kerja sama dengan puluhan kampus lain dari negara-negara yang berbeda.

Dia dipilih karena kerja sama Walailak University dengan BIPA UM dinilai produktif dan konsisten. ”Kerja sama itu semula hanya berbentuk pengiriman mahasiswa untuk belajar bahasa Indonesia di Indonesia. Tapi, semakin lama makin berkembang hingga merambah untuk kerja sama di bidang penelitian, kajian budaya, dan lain-lainnya,” terangnya. Selain itu, alumni mahasiswa Walailak University yang mengikuti program BIPA UM dipandang memiliki nilai lebih di Thailand. Mereka ada yang menjadi penerjemah, dosen, guru, pebisnis antarnegara, dan lain-lain.

”Adanya kerja sama dengan Indonesia, dalam hal ini BIPA UM membuat program ASEAN Studies Walailak University sehingga eksis di negaranya. Bahkan, menjadi rujukan kampus lain untuk mengembangkan program yang serupa,” ujar bapak satu anak tersebut. Atas perkembangan inilah, Gatut dinilai turut berjasa ikut mengokohkan posisi Walailak University di Thailand. Bukan hanya itu, hasil kerja sama dua pihak ini telah berhasil menerbitkan tiga kamus Bahasa Indonesia-Thai yang menjadi bahan pembelajaran di sana. Termasuk, beberapa buku kumpulan puisi terjemahan.

Gatut menerangkan, kerja sama tersebut berawal saat ada mahasiswa Thailand yang belajar di UM. Dia tertarik dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Gatut yang saat itu menjadi bagian dosen pengajar BIPA dikenalkan kepada salah satu dosen Walailak University. ”Kami pun berkomunikasi melalui e-mail dan telepon. Mereka tertarik pada konsep pembelajaran BIPA di UM. Lalu, ada delegasi kampus yang ke Malang. Pada akhir 2009 silam, Walailak University mengirim delapan orang angkatan pertama ke sini,” ungkap pria yang tinggal di Villa Puncak Tidar No 11 itu. Program ini pun berjalan hingga sekarang. Setiap tahun, Walailak University mengirimkan belasan mahasiswanya.

Selain itu, program BIPA UM juga mengajar mahasiswa yang berasal dari Amerika Serikat, Myanmar, Vietnam, Korea, Jepang, Uzbekistan, Georgia, Gambia, Etiopia, Afrika Selatan, dan lain-lainnya. Menurut Gatut, BIPA UM termasuk yang tertua di Indonesia karena berdiri sejak 1974 silam.

”Kalau saya sendiri bergabung sejak 1992, ketika lulus S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang (sekarang UM). Waktu itu dibutuhkan tentor Contemporary South Asia Studies Programme (CSASP),” tutur dosen yang sejak 2010 lalu menjadi Institute Director Critical Language Scholarship-American Councils Program di Indonesia itu.

Menjadi tentor, Gatut merasa senang. Dia pun serius dan terus belajar mengenai ilmu pembelajaran di BIPA. Posisinya diperkuat pada saat ada lowongan dosen yang membutuhkan spesifikasi pembelajaran BIPA pada 1999. ”Padahal pada saat S-1, saya menekuni seni drama. Tapi, saya menemukan keasyikan di BIPA. Akhirnya tesis dan desertasi saya juga terkait BIPA,” terang pria yang S-2 dan S-3-nya diraih di UM itu. Gatut juga telah menerbitkan satu buku ajar BIPA bersama satu rekannya, judulnya Living Indonesia yang menjadi bahan ajar sejumlah universitas di luar negeri.

Berkat kiprahnya pula, Gatut diminta menjadi pembicara dalam program workshop Critical Language Scholarship (CLS) di Washington DC, Amerika Serikat, 20–22 Februari 2017. Saat itu, Gatut memaparkan pengalamannya dalam mengelola program CLS di Indonesia di hadapan para Institute Director Program CLS dari 14 negara. Di antaranya Azerbaijan, Tiongkok, Indonesia, India, Jepang, Korea, Maroko, Yordania, dan Rusia. ”Dari pertemuan itulah, saya mendapat kesan jika bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa asing yang dianggap penting oleh orang Amerika,” papar alumnus SMAN 1 Talun, Blitar itu.

Selain program CLS di Indonesia, sulung dari enam bersaudara itu juga dipercaya melaksanakan program American Councils yang lain. Yakni program Indonesian Overseas Program (IOP) yang merupakan program pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia, sejak 2013 lalu. Kemudian mulai 2015 lalu, pria murah senyum itu juga menjadi koordinator di Indonesia untuk program Youth South East Asian Leadership Initiative Professional Fellows Program (YSEALI PFP) di bidang pemberdayaan ekonomi (economic empowerment) berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Jakarta.

Bahkan, pada 21 Maret 2018 mendatang, Gatut diundang menjadi salah satu peserta aktif United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Chair atau diskusi terbatas yang melibatkan 13 universitas di Asia, Eropa, dan Amerika yang diadakan di Brasil. Topik yang dibahas yakni Language Policies for Multilingualism atau kebijakan bahasa. ”Saya juga berjuang agar bahasa Indonesia bisa diterima menjadi bahasa internasional, salah satunya melalui UNESCO,” ujar pria yang juga pengurus pusat Afiliasi Pengajar dan Penggiat BIPA di Indonesia itu. (*/c2/lid)

Source: http://radarmalang.jawapos.com/read/2017/04/09/3679/gatut-susanto-raih-penghargaan-akademik-dari-walailak-university-thailand

Journal of Language and Arts 2017

Journal of Language and Arts 2017

Edition Year 45, Number 1, February 2017

Cover and Table of Contents

Instructions for Authors

  1. Types of Errors for Syntax Grammatical Concordance in Arabic Phrases By Supardi, Syamsul Hadi, Soepomo Poedjosoedarmo, and Suhandano
  2. Derivational Affixes and Noun Types in Indonesian Denominative Verb Constructions By A. Danang Satria Nugraha
  3. The Effect of Written Retelling Technique on Students' Reading Comprehension Across Personality Learning Styles By Sylvia and Utami Widiati
  4. Appreciation and Creation in Ceramic Art Learning as a Form of Cultural Preservation for Students of TK Pandeyan 2 Sukoharjo in Surakarta Residency By Novita Wahyuningsih and Joko Lulut Amboro
  5. Formative Assessment in Efl Classroom Practices By Ida Ayu Made Sri Widiastuti and Ali Saukah
  6. Acceptability of Haensel und Gretel's Fairy Tale Translations By Rosyidah, Deddy Kurniawan and Desti Nur Aini
  7. Language Attitude and Choice by Minangkabau Community: Sociolinguistic Study in Medan By Deliana, Rohani Ganie and Nilzami Raswiy
  8. Discourse on Women's Identity in Indonesian Muslim Women's Magazine By Nisa Kurnia Illahiati
  9. Vocabulary of Low Grade Elementary School Students (Study of Types of Words, Forms of Words, Types of Meanings, and Fields of Meaning) By Yeti Mulyati
en_USEnglish