Malang – Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan seminar bertema “Kurikulum OBE dalam Pendidikan Seni Pertunjukan: Menjawab Tantangan Industri Kreatif & Society 5.0.” Acara ini diadakan pada tanggal (29/4/26) di Gedung AVA Lantai 2 D14 Fakultas Sastra, dengan menghadirkan dua narasumber ahli di bidang pendidikan seni, Dr. Tutung Nurdiyana, S.Sos., M.A., M.Pd dari Universitas Airlangga, dan Puji Astutik, S.Pd, guru seni budaya SMPN 23 Malang.
Seminar yang dimoderatori oleh Wecya Sugevin, S.Pd., M.Pd dari Universitas Negeri Malang ini bertujuan untuk membahas tantangan dan peluang pendidikan seni dalam menghadapi perkembangan teknologi digital serta perubahan paradigma dalam masyarakat modern. Tema besar seminar ini menyoroti pentingnya pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang tidak hanya mengedepankan aspek teknis, tetapi juga menghargai filosofi dan identitas budaya dalam seni pertunjukan.
Dr. Tutung Nurdiyana, S.Sos., M.A., M.Pd dalam pemaparannya menjelaskan bahwa generasi Z yang tumbuh di tengah-tengah perkembangan teknologi, memerlukan pembelajaran yang mampu mengintegrasikan seni tradisional dengan elemen-elemen kontemporer, sehingga mampu menciptakan inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Beliau menekankan pentingnya memadukan antara seni tradisional dan seni digital, di mana para pelaku seni masa depan harus bisa mengintegrasikan visualisasi, interaktivitas, serta personalisasi dalam karya seni mereka.
Sementara itu, Puji Astutik S.Pd, yang memiliki pengalaman mengajar seni budaya, mengungkapkan pentingnya implementasi pembelajaran mendalam dalam pendidikan seni. Menurutnya, pembelajaran seni tidak hanya berhenti pada pengetahuan teknis, tetapi harus mampu menghubungkan siswa dengan nilai-nilai budaya yang mendalam melalui eksplorasi dan penciptaan karya seni yang orisinal. Beliau juga menekankan pentingnya peran guru sebagai fasilitator dalam mendorong siswa untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya yang merefleksikan konteks sosial dan budaya di sekitarnya.
Acara ini juga menyajikan beberapa contoh konkret penerapan strategi pembelajaran mendalam seperti project-based learning, di mana siswa diberi kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan pameran seni topeng Malangan kontemporer. Strategi lain yang dibahas adalah inkuiri budaya, di mana siswa mengunjungi pengrajin batik lokal untuk memahami filosofi di balik motif batik yang mereka buat.
Dalam diskusi yang berlangsung, para peserta seminar juga diajak untuk melakukan refleksi estetis, seperti merasakan perasaan ketika memainkan gamelan, yang menghubungkan mereka lebih dalam dengan nilai-nilai budaya. Seminar ini juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mengeksplorasi penerapan seni tradisional dalam konteks modern, melalui integrasi teknologi dan kolaborasi lintas disiplin.
Seminar ini diharapkan dapat memberi kontribusi bagi kemajuan pendidikan seni pertunjukan di Indonesia, yang tidak hanya mengedepankan aspek teknis, tetapi juga nilai-nilai budaya yang mengakar kuat. Dengan adanya kolaborasi antara akademisi, praktisi seni, dan masyarakat, diharapkan pendidikan seni di Indonesia dapat terus berkembang sesuai dengan tantangan zaman.
Pewarta: Ratu Zabrina Berlianti – Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia UM